...
Tips Kontrol Berat Badan di Usia Lanjut Agar Tidak Obesitas

TipsKontrol-144

Menurut para ahli, obesitas adalah kondisi di mana lemak tubuh berada dalam jumlah yang berlebihan, sehingga dapat menyebabkan beragam penyakit yang dapat menurunkan kualitas hidup, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, artritis, nyeri punggung, bahkan disfungsi seksual. Obesitas sendiri berbeda dengan overweight atau kelebihan berat badan.

Overweight atau kelebihan berat badan adalah keadaan di mana berat badan seseorang melebihi berat badan normal. Untuk mempermudah, WHO pun menetapkan klasifikasi obesitas, yaitu dengan metode pengukuran body mass index (BMI), yang didapat dengan cara membagi berat badan (kg) dengan kuadrat dari tinggi badan (meter).

Nilai BMI normal penduduk Asia adalah 18,5–22,9. Sedangkan seseorang dikatakan kelebihan berat badan atau overweight ketika memiliki nilai BMI sebesar 23–24,9. Dan orang yang memiliki nilai BMI di atas 30 digolongkan sebagai penderita obesitas, karena memiliki kelebihan berat badan hingga 20 persen dari berat badan normal.

Untuk itu, Anda perlu mengontrol berat badan Anda, agar tidak menderita obesitas, apalagi jika Anda telah berusia lanjut atau lansia. Menurut Exton-Smith dalam Encyclopedia of Food Science, Food Technology and Nutrition, lansia umumnya lebih mudah mengalami kerawanan gizi, mulai dari kekurangan gizi ataupun kelebihan gizi yang nantinya dapat menyebabkan obesitas. Kerawanan gizi ini sendiri disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya fisik yang melemah, gangguan kesehatan, depresi dan banyak lagi lainnya. Berikut ini adalah beberapa tips untuk mengontrol berat badan bagi Anda yang telah berusia lanjut, agar tidak menderita obesitas.

Lakukan Olahraga yang Melatih Otot

Pada saat usia seseorang memasuki usia 50 atau 60 tahun, tubuh mulai kehilangan masa otot. Dan untuk mengembalikan masa otot, diperlukan olahraga rutin. Karena dalam tubuh seseorang, otot dapat membakar lebih banyak kalori daripada lemak, bahkan ketika tubuh sedang beristirahat dan metabolisme tubuh melemah. Untuk melatih otot, lansia perlu melakukan beberapa jenis olahraga diantaranya, angkat beban, berjalan untuk memperkuat otot tubuh bagian bawah, bersepeda untuk meningkatkan aliran darah dan membentuk otot pada bagian depan, belakang kaki, serta pinggul. Olahraga lainnya seperti yoga untuk merenggangkan dan memperkuat otot, serta zumba atau aerobik yang dapat membantu ketahanan dan memperkuat otot.

TipsKontrol-2

Sebuah riset di Inggris menunjukkan bahwa para lansia yang gemar melakukan aktivitas fisik, seperti lari, memiliki risiko lebih rendah terkena beragam penyakit serius. Dilansir dari BBC, para peneliti University College London melakukan studi terhadap 3.500 lansia di Inggris. Dari hasil studi tersebut, ditemukan fakta bahwa mereka yang berusia 60 tahun keatas yang gemar berolahraga, memiliki kemungkinan tiga kali lebih besar untuk tetap sehat selama delapan tahun berikutnya, dibandingkan dengan mereka yang hanya duduk-duduk dengan malas. Karena seperti yang diketahui, dengan melatih otot tubuh secara rutin, maka sirkulasi darah pun akan lancar, dan tubuh tetap bugar. 

Konsumsi Banyak Protein

Pola makan yang tepat dapat memengaruhi kualitas hidup seorang lanjut usia. Namun mengingat kondisi fisik dan biologis lansia yang sudah banyak mengalami penurunan, membuat lansia harus mengatur pola makan secara khusus, agar tidak mengalami masalah gizi. Kebutuhan gizi lansia sendiri sebenarnya hampir sama dengan orang dewasa pada umumnya, namun sedikit berbeda dalam hal kuantitas. Lansia sebaiknya mengonsumsi 1–1,2 gram protein per hari per kilogram berat badan.

Jadi, misal jika Anda memiliki berat badan 70 kg, maka sebaiknya Anda memperoleh asupan 70 – 100 gram protein per hari. Karena seperti yang diketahui, asupan protein sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk menjaga kekuatan otot dan tulang. Pakar gizi pun menganjurkan agar kebutuhan protein lansia dipenuhi dari beberapa sumber protein hewani seperti telur dan ikan, untuk memenuhi tingginya kebutuhan asam amino esensial pada usia lanjut.

Batasi Makanan Tinggi Kalori dan Gula

Makanan tinggi kalori dan tinggi gula, dapat membuat jumlah kalori berlebih pada tubuh, sehingga membuat berat badan menjadi naik. Gula sendiri sebenarnya mengandung dua molekul berbeda, yaitu glukosa dan fruktosa. Glukosa sangat dibutuhkan oleh tubuh dan merupakan bagian penting dalam metabolisme tubuh. Setiap kali tubuh mendapatkan asupan makanan, maka tubuh akan memproduksi glukosa dan menggunakannya sebagai sumber energi.

Berbeda dengan glukosa, fruktosa tidak diproduksi oleh tubuh secara natural. Kebanyakan dari fruktosa yang dikonsumsi oleh tubuh, akan diolah hati dan akhirnya diubah menjadi lemak. Namun, gula yang terkandung dalam buah-buahan memiliki jumlah fruktosa lebih sedikit, dan lebih banyak mengandung vitamin, serat dan mineral. Tak hanya mengonsumsi buah-buahan, lansia juga harus banyak mengonsumsi sayuran bernutrisi dan banyak mengandung serat, untuk membantu proses pencernaan tubuh.

Penuhi Asupan Vitamin dan Mineral Plus Zat L Carnitine untuk Cegas Obesitas

Selain membatasi makanan tinggi kalori dan gula, lansia juga membutuhkan diet khusus lansia, yang harus memperhatikan kecukupan gizi dari makanan yang dikonsumsinya. Tak hanya itu, tekstur makanan juga harus diperhatikan, agar makanan lebih mudah dicerna, sehingga dapat terhindar dari masalah gizi atau malnutrisi.

Selain makanan tinggi protein, serta berkalori tinggi dan rendah gula, setiap harinya, lansia juga harus mengonsumsi 1.000 miligram kalsium per hari dan 1.000 unit vitamin D per harinya. Hal ini sangatlah penting, karena kebutuhan kalsium untuk tulang, mampu diserap dengan baik berkat bantuan vitamin D. Namun jika pola makan tak seimbang, ada baiknya Anda mengonsumsi multivitamin seperti Renovit Gold, yang memiliki kandungan 12 vitamin dan 13 mineral plus zat L Carnitine, yang dapat mencegah obesitas.

Share Artikel ini :